“Karma” adalah sebuah konsep agama Timur yang melihat semua drama manusia sebagai kehendak dari Sang Maha Kehendak di mana dalam konsep “karma”, semua yang dialami manusia adalah hasil dari tindakan kehidupan masa lalu dan sekarang. Dalam keyakinan Timur, efek karma dari semua perbuatan dipandang sebagai aktif membentuk masa lalu, sekarang, dan pengalaman masa depan.
Dalam falsafah Jawa karma mungkin lebih mengarah pada falsafah Ngunduh Wohing Pakarti (menuai apa yang telah kita kerjakan). Lepas dari sisi religi menurut saya ada satu hukum yang mau tidak mau mengikat kita. Hukum sebab-akibat. Tidak ada asap tanpa api, kita melakukan sesuatu dan kita mendapatkan apapun dari yang telah kita lakukan.
Tuhan “memberi kita kebebasan untuk berkehendak”, memberi keleluasaan dan otonomi yang luar biasa kepada kita untuk memikirkan apapun, melakukan apapun, dan memilih langkah dalam upaya mengatasi hidup untuk menemukan takdinya namun tentunya kita harus siap dengan pertanggungjawabannya, menerima resiko apapun dari pilihan hidup kita. Entah itu 3 jam lagi, 3 hari lagi, 3 minggu lagi, 3 bulan lagi, atau 30 tahun yang akan datang.
Seorang tetangga yang menurut saya sangat baik hati, suatu saat berkeluh kesah: “Mengapa hal ini terjadi, mengapa cobaan demi cobaan tak kunjung henti mendera keluargaku, bukankah selama ini aku selalu berbuat baik. Sebagai mahklukNya jalanku tak pernah ingkar dari perintahNya, sebagai anggota masyarakat selalu ku bantu tetanggaku yang dalam kesusahan”. sambungnya : “dan bukankah kesalahanku di masa lalu itu sudah kutebus, dengan menikahi dan memelihara anak dari buah cinta terlarang yang dulu”
Bukankah takdir bisa kita telusuri dengan mengurai rangkaian apa yang telah kita kerjakan di masa lalu. Entah itu 3 jam yang lalu, 3 hari yang lalu , 3 minggu yang lalu, 3 bulan lalu, atau 30 tahun yang lalu. Ngunduh Wohing Pakarti. Panen raya dari tanaman di ladang kehidupan kita.
siapa menabur bakal menuai^^ tapi menurutku bisa juga akibatnya gak diterima di sini tapi entar di akhirat…
kebaikan akan di balas kebaikan, dan keburukan jika terlambat menyadarinya, maka akan berbuah keburukan juga
salam
Karma…. Hmmmm…. selalu berbuat kebaikan aja deh.
ngunduh wohing pakarti tuh pepatah jawa ya mahesa… kita akan menuai dari apa yang kita perbuat…. makanya kita berusaha menjaga lisan dan perbuatan kita yaa, biar slamet dech.. ^^
rose ingin menuai buah yang manis… ga ingin buah yang pahit kan tertuai…
aksi = reaksi
ehehhehehe
intinya itu an kak mahesa?
siapa menebar angin akan menuai badai, jadi teringatkan istilah ini yang sempat ramai pada masa orde baru
apa yang kita perbuatan baik atau buruk itulah yang nanti akan kita peroleh
Mungkin tetangga kk itu perlu membaca postingan saya yang ini :
http://purithepinkoctopus.blogspot.com/2010/05/manusia-akan-celaka-jika-hanya-diadili.html
(iklan mode on)
“Tapi lelaki saleh itu terus saja berzikir, sebab sudah lama ia menapaki Jalan Cinta, dan kehendak Sang Kekasih sudah menjadi kehendaknya, entah ia dimasukkan ke dalam surga atau neraka.”
Inilah emas yang sesungguhnya…