Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2010

Pagi menjelang siang hari ini. Duduk di teras rumah sambil menikmati lalu-lalangnya orang  dari barat ke timur atau sebalikna.  Ada pembicaraan ringan namun cukup dalam menggores ruang ingatan yang  akhirnya mengusik reluh sadarku.

  • Tina        : “duh.. puyeng aku sama soal mate tadi, huww.. lulus pa ga ya, padahal kunci jawaban dah aq pegang, ternyata ga cocok”
  • Tini         : “ha..ha… kalo aq sih 99,9% yakin lulus” (yakin bgt)
  • Tina        : “Kamu enak, Tono Juara sekolah kita soalnya sama dengan soalmu, pasti jawabanmu 99,9% juga sama”.
  • Tini         : “Mantep bu…, tambah lagi pengawas ruang td pengertian banget,  jadinya agresi mencari kunci berjalan mulus”.
  • Tina        : “Sebenarnya ruangku juga sama, pokoknya suasana tetap tertib, tenang, aman terkendali aksi contek-menyontek juga lancar, tapi mau nyontek sapa, lawong satu ruang sama blo’onnya kayak aq”.
  • Tini         : “Nyante aj bu, kita kan dah minta doa restu sama Mbah Karto, dikasih jampi2 lagi, Mbah Karto kan masih sodara ama Mbah Marijan. Pasti roso mantranya. (Huawkk…haack.. haw.. (tertawa semua)

Dialog yang mempresentasikan  fenomena masyarakat kita, siswa-siswa sekolah yang kelak menjadi ujung tombak penentu budaya dan wajah masyarakat kita.

Mereka begitu usaha mati-matian, mulai dari belajar yang ditunjang oleh usaha yang luar biasa, mulai dari nyontek, nunggu sms kunci jawaban, pergi ke dukun nego dengan memelas kepada pengawas ruang sehingga berkenan memberi kesempatan untuk contekan.

Sementara sekolah, terus dan terus memacu dan menjejali (meski ga memperhatikan siswa sudah over dosis sampai teler dan berbusa-busa) materi-materi yang akan diujikan.  Di rumahpun tak ada ruang untuk tidak memikirkan Ujian Nasional karena orang tua tentu akan sangat malu kalau anaknya tidak lulus.

Pihak pengambil kebijakan mungkin tidak menyangka kalau efek Ujian Nasional yang menginginkan peningkatan kualitas pendidikan dengan menargetkan nilai tertentu sungguh2 luar biasa.  Peningkatan kualitas mungkin belum tentu dicapai, namun yang pasti penanaman nilai-nilai dangkal dan lipstik oriented jelas tergambar.

Dengan Ujian Nasional penilaian bakat, minat dan prestasi non akademis diabaikan.  Asalkan lulus Mata Pelajaran yang di UN-kan, maka pendidikan dianggap berhasil.

Yang jelas terjadi : budaya contek yang sebenarnya tak beda dengan maling, budaya dukun yang seharusnya syirik, budaya nepotisme yang pasti merapuhkan budaya dan tatanan menjadi halal dilakukan.  Dan ini tanpa sengaja tertanam di benak siswa-siswa sekolah, yang notabene adalah generasi yang akan menentukan wajah budaya bangsa kita.  Betapa dengan mudahnya orang menilai Pandai dan Goblok dengan hanya melihat nilai matematika, Betapa dangkalnya sebuah ketuntasan belajar dari indikator Lulus atau Tidak Lulus Ujian Sekolah.

Betapa kita sudah memupuk diri menjadi bangsa yang Lipstick Oriented. Merah, Indah, Cantik, menggairahkan namun dalamnya… dipertanyakan… Sebuah gerakan nasional yang pelan namun pasti.

Read Full Post »

“Semua Bab berada dalam 1 file”

Tergerak oleh pertanyaan beberapa teman saat mengerjakan Makalah, Skripsi ataupun PTK, “Gimana kalo pengin membuat nomor halaman yang berbeda, masa harus ngeprint dulu halaman yang kanan atas, trus ganti yang ada bab dengan halaman bawah tengah???” (Maksudnya setiap halaman yang ada BAB nomor halaman ditaruh di bawah tengah sedangkan halaman lain di kanan atas, dengan kondisi BAB I sampai BAB V berada pada satu file)

Langkah awal aktifkan nomor halaman dengan posisi kanan atas :

  1. Klik menu Insert, Page Number
  2. Ganti tab Position dengan Top of Page (header)
  3. Ganti tab Aligment dengan Right
  4. Klik OK

Sekarang nomor halaman sudah aktif dengan posisi kanan atas.

Langkah berikutnya adalah mengganti  setting header/footer dengan tujuan membedakan letak nomor halaman pertama dari halaman yang lain:

  1. Klik menu File, Page Setup
  2. Ganti pada Tab Layout
  3. Centang  kotak Different First Page
  4. Klik OK

Dengan langkah ini halaman pertama akan hilang.  Berikutnya kita masuk ke header footer dengan langkah Klik View, Header/Footer, Geser kursor ke bagian footer (bawah) kemudian aktifkan nomor halaman dengan klik tanda #)

Nah sekarang halaman bawah tengah sudah aktif.

Untuk BAB II kita tinggal meletakkan kursor pada awal tulisan BAB

  1. kemudian klik menu File, Page Setup
  2. Ganti pada Tab Layout
  3. Pada tab Apply to pilih This point Forward
  4. Klik OK

BAB III sampai terakhir, tinggal mengulang langkah  seperti pada halaman Bab II

Bagi pengguna word 2007, kayaknya tinggal menyesuaikan saja.

Read Full Post »

Suara tanpa suara

Read Full Post »

Aku mengaduk-aduk file dan folder yang tersimpan dalam memori kenanganku saat aku pertama hadir di muka bumi ini. Usaha yang sia-sia… tak juga dapat ditemukan.

Sebuah tangis bisa berarti kegembiraan atau kesedihan yang tak tertahankan. Namun yang pasti aku yakini adalah sebuah tangis keras seorang aku yang bayi dan bayi-bayi normal lainnya 100% adalah sebuah tangis kegembiraan. Rasa terpesona yang luar biasa pada pandang dan rasa pertama…, dan sebuah naluri bersyukur yang tulus seorang mahkluk yang pertama merasakan warna-warni hidup, dan atas sambutan riang gembira dari pengharapan dan doa orang-orang sekitar atas kehadirannya.

Seorang bayi adalah murni dan kosong, demikian Bang Iwan Fals menulis dalam lagunya. Seorang bayi yang hanya tahu satu hal yang pasti, bahwa hidup adalah sebuah anugrah, yang hanya layak disambut dengan kegembiraan dan tangisan syukur.

Itu seorang bayi (menurut aku).

Namun betapa bertolak belakang antara hidup bagi seorang bayi dengan mahkluk dewasa seperti kita. Setiap hembus nafas, setiap detak jantung, setiap langkah yang terayun, bahkan setiap pilihan hidup kita sendiri yang memutuskan selalu saja membuahkan keluhan-demi-keluhan, sambat yang begitu nelongso, marah, umpatan geram dengan apa yang terjadi. Dan akhirnya menaifkan Nikmat yang tak pernah bisa terukur oleh satuan volume apapun. Nikmat setiap hembus nafas, setiap detak jantung, segenap ayunan langkah dan segenap hidup kita (bahkan kentut dan BH -Buang Hajat, tidakkah sebuah nikmat?).

Lihat saja di halaman facebook. Dari 20 coment yang ada, 15 coment tak lebih ungkapan2 sambat dan keluhan2 yang begitu bangga mereka sampaikan ke segenap penjuru dunia FB. Mereka bangga orang lain tahu kita adalah orang yang paling sedih, paling bermasalah, paling tidak bahagia dan seakan-akan orang yang tak pernah diberi sebuah rasa Bahagia sepanjang durasi hidupnya

Betapa tak terukur nikmat yang kita terima, meski mungkin kita berpaling, betapa tak mampu terangkul segenap hidup telah banyak memberi, meski kita tak meminta.

Betapa kita selalu berpaling atas segala nikmat hidup dengan mengeluh, mengeluh, mengeluh dan nelongso…. sehingga melupakan tangis pertama bayi mulainya kehadiran kita di rentangan fana 😦

Sungguh-sungguh menyedihkan.

Untuk diriku sendiri…….

Read Full Post »

Kita mengenal program Folder Locker atau sejenisnya yang fungsinya untuk mengunci file atau folder demi keamanan data-data kita agar hanya kita yang bisa membuka folder atau file.  Tentunya program Folder Locker tersebut harus kita install di komputer kita.  Nih ada tips mengamankan file/folder tanpa harus ribet install program, yang terkadang programnya crash dan windows jadi rewel.  Kita hanya menambahkan file bat dengan script tertentu.

Caranya adalah memasang file bat, caranya adalah sebagai berikut :

  • Copy..script di bawah ini ke notepad
  • simpan dengan nama terserah Anda
  • ganti “save as type” ke “All File”
  • simpan dalam bentuk .bat –>contoh “kunci.bat”
  • copy file .bat ke drive (terserah anda)
  • klik 2 kali file kunci.bat tersebut..maka muncul folder “Locker”
  • masukan file yg mo di kunci ke folder locker
  • untuk mengunci klik lagi file kunci.bat
  • sebelumnya ganti password script dibawah ini (cari kata mahesa, ganti dengan password anda)

Ini dia script nya:

cls
@ECHO OFF
title Folder Locker
if EXIST “Control Panel.{21EC2020-3AEA-1069-A2DD-08002B30309D}” goto UNLOCK
if NOT EXIST Locker goto MDLOCKER
:CONFIRM
echo Are you sure u want to Lock the folder(Y/N)
set/p “cho=>”
if %cho%==Y goto LOCK
if %cho%==y goto LOCK
if %cho%==n goto END
if %cho%==N goto END
echo Invalid choice.
goto CONFIRM
:LOCK
ren Locker “Control Panel.{21EC2020-3AEA-1069-A2DD-08002B30309D}”
attrib +h +s “Control Panel.{21EC2020-3AEA-1069-A2DD-08002B30309D}”
echo Folder locked
goto End
:UNLOCK
echo Enter password to Unlock folder
set/p “pass=>”
if NOT %pass%==mahesa here goto FAIL
attrib -h -s “Control Panel.{21EC2020-3AEA-1069-A2DD-08002B30309D}”
ren “Control Panel.{21EC2020-3AEA-1069-A2DD-08002B30309D}” Locker
echo Folder Unlocked successfully
goto End
:FAIL
echo Invalid password
goto end
:MDLOCKER
md Locker
echo Locker created successfully
goto End
:End

Mudah2an file/folder kita lebih aman…

Source: duniasoftware.com

Read Full Post »

Typing Master adalah sebuah program yang melatih meningkatkan kemampuan mengetik. Freeware yang sederhana ini tidak memerlukan berbagai setting khusus. Kita tidak memilih jenis tombol yang akan kita ketik mulai dari home row (asdf jkl;) sampai tombol-tombol dan tanda tertentu.  Setiap karakter yang akan diketik ditampilkan bagian atas, sedangkan teks yang sudah diketik akan menghilang tampilannya, akan memunculkan suara error pada setiap kesalahan. Pada bagian atasnya, terdapat sebuah keyboard virtual yang dapat membantu sedangkan bagian bawah terdapat gambar jari yang harus menekan tombol yang harus ditekan.

Anda dalam menekan tombol yang benar. Setelah selesai mengetik teks, akan muncul pop-up Windows yang menampilkan statisitik hasil pengetikan tersebut.

Mau mencoba ngetik dengan sepuluh jari…? Pastinya keren abis kalo kita ngetik tanpa melihat keyboard. Dan yang pasti hemat energy dan waktu.
Bagi para blogger boleh dicoba, kayaknya pas banget kalo lagi posting ngetiknya dengan sepuluh jari.  Dari yang pernah mempraktekkan satu hari pegang kompi 20-30 menit latihan typing master, sekitar 3 bulan dah mahir sepuluh jari…. Insya Allah

Bagi yang pengin nyoba bisa unduh :  Typing Master

Read Full Post »

Rahasia Kekuatan Doa

Dengan menggunakan akal budi dan hati nurani (nur/cahaya dalam hati) yang penuh keterbatasan kami berusaha mencermati, mengevaluasi dan kemudian menarik benang merah, berupa nilai-nilai  (hikmah) dari setiap kejadian dan pengalaman dalam doa-doa kami.

Berkaitan dengan Waktu dan tempat yang dianggap mustajab untuk berdoa, kiranya setiap orang memiliki kepercayaan dan keyakinan yang berbeda-beda. Kedua faktor itu berpengaruh pula terhadap kemantapan hati dan tekad dalam mengajukan permemohonan kepada Tuhan YME. Namun bagi saya pribadi semua tempat dan waktu adalah baik untuk melakukan doa. Pun banyak juga orang meyakini bahwa doanya akan dikabulkan Tuhan, walaupun doanya bersifat verbal atau sebatas ucapan lisan saja. Hal ini sebagai konsekuensi, bahwa dalam berdoa hendaknya kita selalu berfikir positif (prasangka baik) pada Tuhan. Kami tetap menghargai pendapat demikian.

SULITNYA MENILAI KESUKSESAN DOA

Banyak orang merasa doanya tidak/belum terkabulkan. Tetapi banyak pula yang merasa bahwa Tuhan telah mengabulkan doa-doa tetapi dalam kadar yang masih minim, masih jauh dari target yang diharapkan. Itu hanya kata perasaan, belum tentu akurat melihat kenyataan sesunggunya. Memang sulit sekali mengukur prosentase antara doa yang dikabulkan dengan yang tidak dikabulkan. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor berikut ;

  1. Kita sering tidak mencermati, bahkan lupa, bahwa anugrah yang kita rasakan hari ini, minggu ini, bulan ini, adalah merupakan “jawaban” Tuhan atas doa yang kita panjatkan sepuluh atau dua puluh Tahun yang lalu. Apabila sempat terlintas fikiran atau kesadaran seperti itu, pun kita masih meragukan kebenarannya. Karena keragu-raguan yang ada di hati kita, akan memunculah asumsi bahwa hanya sedikit doa ku yang dikabulkan Tuhan.

  2. Doa yang kita pinta pada Tuhan Yang Mahatunggal tentu menurut ukuran kita adalah baik dan ideal, akan tetapi apa yang baik dan ideal menurut kita, belum tentu baik dalam perspektif Tuhan. Tanpa kita sadari bisa saja Tuhan mengganti permohonan dan harapan kita dalam bentuk yang lainnya, tentu saja yang paling baik untuk kita. Tuhan Sang Pengelola Waktu, mungkin akan mengabulkan doa kita pada waktu yang tepat pula. Ketidaktahuan dan ketidaksadaran kita akan bahasa dan kehendak Tuhan (rumus/kodrat alam), membuat kita menyimpulkan bahwa doa ku tidak dikabulkan Tuhan.

  3. Prinsip kebaikan meliputi dua sifat atau dimensi, universal dan spesifik. Kebaikan universal, akan berlaku untuk semua orang atau makhluk. Kebaikan misalnya keselamatan, kesehatan, kebahagiaan, dan ketentraman hidup. Sebaliknya, kebaikan yang bersifat spesifik artinya, baik bagi orang lain, belum tentu baik untuk diri kita sendiri. Atau, baik untuk diri kita belum tentu baik untuk orang lain. Kebaikan spesifik meliputi pula dimensi waktu, misalnya tidak baik untuk saat ini, tetapi baik untuk masa yang akan datang. Memang sulit sekali untuk memastikan semua itu. Tetapi paling tidak dalam berdoa, kemungkinan-kemungkinan yang bersifat positif tersebut perlu kita sadari dan terapkan dalam benak. Kita butuh kearifan sikap, kecermatan batin, kesabaran, dan ketabahan dalam berdoa. Jika tidak kita sadari kemungkinan-kemungkinan itu, pada gilirannya akan memunculkan karakter buruk dalam berdoa, yakni;  sok tahu. Misalnya berdoa mohon berjodoh dengan si A, mohon diberi rejeki banyak, berdoa supaya rumah yang ditaksirnya dapat jatuh ke tangannya.  Jujur saja, kita belum tentu benar dalam memilih doa dan berharap-harap akan sesuatu. Kebaikan spesifik yang kita harapkan belum tentu menjadi berkah buat kita. Maka kehendak Tuhan untuk melindungi dan menyelamatkan kita, justru dengan cara tidak mengabulkan doa kita. Akan tetapi, kita sering tidak mengerti bahasa Tuhan, lantas berburuk sangka, dan tergesa menyimpulkan bahwa doaku tidak dikabulkan Tuhan.

Tidak gampang memahami apa “kehendak” Tuhan. Diperlukan kearifan sikap dan ketajaman batin untuk memahaminya. Jangan pesimis dulu, sebab siapapun yang mau mengasah ketajaman batin, ia akan memahami apa dan bagaimana “bahasa” Tuhan. Dalam khasanah spiritual Jawa disebut “bisa nggayuh kawicaksanane Gusti”.

HAKEKAT DIBALIK KEKUATAN DOA

Agar doa menjadi mustajab (tijab/makbul/kuat) dapat kita lakukan suatu kiat tertentu. Penting untuk memahami bahwa doa sesungguhnya bukan saja sekedar permohonan (verbal). Lebih dari itu, doa adalah usaha yang nyata netepi rumus/kodrat/hukum Tuhan sebagaimana tanda-tandanya tampak pula pada gejala kosmos. Permohonan kepada Tuhan dapat ditempuh dengan lisan. Tetapi PALING PENTING adalah doa butuh penggabungan antara dimensi batiniah dan lahiriah (laten dan manifesto) metafisik dan fisik. Doa akan menjadi mustajab dan kuat bilamana doa kita berada pada aras hukum atau kodrat Tuhan;

  1. Dalam berdoa seyogyanya menggabungkan 4 unsur dalam diri kita; meliputi; hati, pikiran, ucapan, tindakan. Dikatakan bahwa Tuhan berjanji akan mengabulkan setiap doa makhlukNya? tetapi mengapa orang sering merasa ada saja doa yang tidak terkabul?  Kita tidak perlu berprasangka buruk kepada Tuhan. Bila terjadi kegagalan dalam mewujudkan harapan, berarti ada yang salah dengan diri kita sendiri. Misalnya kita berdoa mohon kesehatan. Hati kita berniat agar jasmani-rohani selalu sehat. Doa juga diikrarkan terucap melalui lisan kita. Pikiran kita juga sudah memikirkan bagaimana caranya hidup yang sehat. Tetapi tindakan kita tidak sinkron, justru makan jerohan, makanan berkolesterol, dan makan secara berlebihan. Hal ini merupakan contoh doa yang tidak kompak dan tidak konsisten. Doa yang kuat dan mustajab harus konsisten dan kompak melibatkan empat unsur di atas. Yakni antara hati (niat), ucapan (statment), pikiran (planning), dan tindakan (action) jangan sampai terjadi kontradiktori. Sebab kekuatan doa yang paling ideal adalah doa yang diikuti dengan PERBUATAN (usaha) secara konkrit

  2. Untuk hasil akhir, pasrahkan semuanya kepada “kehendak”  Tuhan, tetapi ingat usaha mewujudkan doa merupakan tugas manusia. Berdoa harus dilakukan dengan kesadaran yang penuh, bahwa manusia bertugas mengoptimalkan prosedur dan usaha, soal hasil atau targetnya sesuai harapan atau tidak, biarkan itu menjadi kebijaksanaan dan kewenangan Tuhan. Dengan kata lain, tugas kita adalah berusaha maksimal, keputusan terakhir tetap ada di tangan Tuhan. Saat ini orang sering keliru mengkonsep doa. Asal sudah berdoa, lalu semuanya dipasrahkan kepada Tuhan. Bahkan cenderung berdoa hanya sebatas lisan saja. Selanjutnya doa dan harapan secara mutlak dipasrahkan pada Tuhan. Hal ini merupakan kesalahan besar dalam memahami doa karena terjebak oleh sikap fatalistis. Sikap fatalis menyebabkan kemalasan, perilaku tidak masuk akal dan mudah putus asa. Ujung-ujungnya Tuhan akan dikambinghitamkan, dengan menganggap bahwa kegagalan doanya memang sudah menjadi NASIB yang digariskan Tuhan. Lebih salah kaprah, bilamana dengan gegabah menganggap kegagalannya sebagai bentuk cobaan dari Tuhan (bagi orang yang beriman). Sebab kepasrahan itu artinya pasrah akan penentuan kualitas dan kuantitas hasil akhir. Yang namanya ikhtiar atau usaha tetap menjadi tugas dan tanggungjawab manusia

  3. Berdoa jangan menuruti harapan dan keinginan diri sendiri, sebaliknya berdoa  itu pada dasarnya menetapkan perilaku dan perbuatan kita ke dalam rumus (kodrat) Tuhan. Kesulitannya adalah mengetahui apakah doa atau harapan kita itu baik atau tidak untuk kita. Misalnya walaupun kita menganggap doa yang kita pintakan adalah baik. Namun kenyataannya kita juga tidak tahu persis, apakah kelak permintaan kita jika terlaksana akan membawa kebaikan atau sebaliknya membuat kita celaka

  4. Berdoa secara spesifik dan detil dapat mengandung resiko. Misalnya doa agar supaya tender proyek jatuh ke tangan kita,  atau berdoa agar kita terpilih menjadi Bupati. Padahal jika kita bener-bener menjadi Bupati tahun ini, di dalam struktur pemerintahan terdapat orang-orang berbahaya yang akan “menjebak” kita melakukan korupsi. Apa jadinya jika permohonan kita terwujud. Maka dalam berdoa sebaiknya menurut kehendak Tuhan, atau dalam terminologi Jawa “berdoa sesuai kodrat alam” atau hukum alamiah. Caranya, di dalam doa hanya memohon yang terbaik untuk diri kita. Sebagai contoh;  ya Tuhan, andai saja proyek itu memberi kebaikan kepada diriku, keluargaku, dan orang-orang disekitarku, maka perkenankan proyek itu kepadaku, namun apabila tidak membawa berkah untuk ku, jauhkanlah. Dengan berdoa seperti itu, kita serahkan jalan cerita kehidupan ini kepada Gusti Allah, Tuhan Yang Maha Bijaksana

  5. Doa yang ideal dan etis adalah doa yang tidak menyetir/mendikte Tuhan, doa yang tidak menuruti kemauan diri sendiri, doa yang pasrah kepada Sang Maha Pengatur. Niscaya Tuhan akan meletakkan diri kita pada rumus dan kodrat yang terbaik…untuk masing-masing orang ! Sayangnya, kita sering lupa bahwa doa kita adalah doa sok tahu, pasti baik buat kita, dan doa yang telah menyetir atau mendikte kehendak Tuhan. Dengan pola berdoa seperti ini, doa hanya akan menjadi nafsu belaka, yakni nuruti rahsaning karep.

DOA MERUPAKAN PROYEKSI PERBUATAN KITA,

Kalimat sederhana ini merupakan kata kunci memahami misteri kekuatan doa;  doa adalah seumpama cermin !! Doa kita akan terkabul atau tidak  tergantung dari amal kebaikan yang pernah kita lakukan terhadap sesama. Dengan kata lain terkabul atau gagalnya doa-doa kita merupakan cerminan akan amal kebaikan yang pernah kita lakukan pada orang lain. Jika kita secara sadar atau tidak sering mencelakai orang lain maka doa mohon keselamatan akan sia-sia. Sebaliknya, orang yang selalu menolong dan membantu sesama, kebaikannya sudah menjadi “doa” sepanjang waktu, hidupnya selalu mendapat kemudahan dan mendapat keselamatan. Kita gemar dan ikhlas mendermakan harta kita untuk membantu orang-orang yang memang tepat untuk dibantu. Selanjutnya cermati apa yang akan terjadi pada diri kita, rejeki seperti tidak ada habisnya! Semakin banyak beramal, akan semakin banyak pula rejeki kita. Bahkan sebelum kita mengucap doa, Tuhan sudah memenuhi apa-apa yang kita harapkan. Itulah pertanda, bahwa perbuatan dan amal kebaikan kita pada sesama, akan menjadi doa yang tak terucap, tetapi sungguh yang mustajab.  Ibarat sakti tanpa kesaktian. Kita berbuat baik pada orang lain, sesungguhnya perbuatan itu seperti doa untuk kita sendiri.

Dalam tradisi spiritual Jawa terdapat suatu rumus misalnya :

  1. Siapa gemar membantu dan menolong orang lain, maka ia akan  selalu mendapatkan kemudahan.

  2. Siapa yang memiliki sikap welas asih pada sesama, maka ia akan disayang sesama pula.

  3. Siapa suka mencelakai sesama, maka hidupnya akan celaka.
  4. Siapa suka meremehkan sesama maka ia akan diremehkan banyak orang.

  5. Siapa gemar mencaci dan mengolok orang lain, maka ia akan menjadi orang hina.

  6. Siapa yang gemar menyalahkan orang lain, sesungguhnya ialah orang lemah

  7. Siapa menanam “pohon” kebaikan maka ia akan menuai buah kebaikan itu

    .

Semua itu merupakan contoh kecil, bahwa perbuatan yang kita lakukan merupakan doa untuk kita sendiri. Doa ibarat cermin, yang akan menampakkan gambaran asli atas apa yang kita lakukan. Sering kita saksikan orang-orang yang memiliki kekuatan dalam berdoa,  dan kekuatan itu terletak pada konsistensi dalam perbuatannya. Selain itu, kekuatan doa ada pada ketulusan kita sendiri. Sekali lagi ketulusan ini berkaitan erat dengan sikap netral dalam doa, artinya kita tidak menyetir atau mendikte Tuhan.

Berikut ini merupakan “rumus” agar supaya kita lebih cermat dalam mengevaluasi diri kita sendiri;

  1. Jangan pernah berharap-harap kita menerima (anugrah), apabila kita enggan dalam memberi

  2. Jangan pernah berharap-harap akan selamat, apabila kita sering membuat orang lain celaka.

  3. Jangan pernah berharap-harap mendapat limpahan harta, apabila kita kurang peduli terhadap sesama.
  4. Jangan pernah berharap-harap mendapat keuntungan besar, apabila kita selalu menghitung untung rugi dalam bersedekah.
  5. Jangan pernah berharap-harap meraih hidup mulia, apabila kita gemar menghina sesama.

Lima hal di atas hanya sebagian contoh, pembaca yang budiman bisa mengidentifikasi sendiri rumus-rumus selanjutnya, yang tentunya tiada terbatas jumlahnya.

Doa akan memiliki kekuatan (mustajab), asalkan kita mampu memadukan empat unsur di atas yakni : hati, ucapan, pikiran, dan perbuatan nyata. Dengan syarat perbuatan kita tidak bertentangan dengan isi doa. Di lain sisi amal kebaikan yang kita lakukan pada sesama akan menjadi doa mustajab sepanjang waktu, hanya jika, kita melakukannya dengan ketulusan. Setingkat dengan ketulusan kita di pagi hari saat “membuang ampas makanan” tak berarti.

Read Full Post »

Older Posts »