Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2010


kusandar penat, kulemparkan ingin
dan ku lepas pandangku pada warna-warni
Betapa keindahan tak kuasa ku tampung
dalam selembar ingatku

Kurangkul keterbatasan, meninggalkan dalam seribu tanya
Betapa terang kebodohanku
Bahkan secuil akalku tak lagi kuasa dan rangkuman segenap filosofi
tak menjelaskan apapun

terpejamkan mata
dalam gelap mengurung dan meniadakan
setitikpun cahaya…

apa arti berjalan,
dalam ingin yang meradang garang
dalam sunyi yang terbungkus resah
tanpa cahaya

Bahwa tidak ada konsep tentang penciptaan Tuhan perihal kejahatan dan kebodohan, tentang gelap dan ketidakindahan, tentang ratapan dan kesakitan yang meluluhkan kebahagiaan.  Tuhan Maha Memanjakan salah satu ciptaanNya, manusia.  Tuhan meniupkan CahayaNya dalam balutan segumpal (lebih…)

Read Full Post »

Tuhan telah tiada

Sore itu sangat cerah, angin mengalir menyeberangi penat hariku, menghibur dengan sapa khasnya dan bercerita tentang siluet dari arah senja memulai petualangan. Sesaat aku terbawa harmoni dan alunan senja, sampai pandangku melayang pada sosok kumal yang tengah bermain-main dengan kayu balok. Dia seakan sedang menimang sosok bayi. Ah… ternyata, dia seorang yang kurang beruntung yang dalam benaknya hanya terbayang balok kayu itu seorang bayi yang layak di gendong dan ditimang, aku menyimpulkan dia seorang yang mengalami gangguan mental.

Kesibukan analisaku terputus karena (lebih…)

Read Full Post »

Persembahan hati untuk Atresia Billier

Jika kekuatan cinta sudah menjelma,
dia tak hanya menyentuh hati
Tak cukup mengetuk hati,
Namun dengan cinta, sebentuk hati rela teriris
Hingga sebentuk persembahan hati
membuktikkan kekuatan cinta
Yang sebenarnya


Guratan wajah itu, begitu tak asing bagiku, figure seorang ayah 3 anak, figure bagi banyak orang yang mampu ngemong, memandu sekaligus menjadi teman, memaknai keberadannya dimanapun sehingga pribadi seorang Bambang Sutondo menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Dan seraut wajah itu, seraut wajah yang selalu dalam sapa ramahnya, menyentuh dengan kesabarannya. Mengguratkan tetes darah dan menjelma tinta emas, seorang Sulistyowati dengan segenap cinta dan ketulusan hatinya.

Kedua figure itu, kemarin telah membuktikan secara nyata, menunjukkan tanpa harus berkata kata, bahwa kekuatan cinta telah membuat mereka mampu menjalani (lebih…)

Read Full Post »

Emansipasi Versus Ego Kebablasan

Emansipasi berasal dari bahasa latin “emancipatio” yang artinya pembebasan dari tangan kekuasaan. Kekuasaan yang mencengkeram, dan sedemikain membatasi gerak dan kebebasan.  Adalah syah dan layak menjadi inspirasi ketika RA Kartini, yang dengan kondisi yang ada pada waktu itu, menempatkan wanita sebagai kaum wingking (dibelakang) dan menjadi terpasung oleh budaya, tempo doeloe, yang akhirnya melahirkan kesadaran untuk memperjuangkan derajat kaum wanita, tempo dulu.  Adalah sebuah kepantasan seorang NH Dini, karena kepekaan dan kualitas empati dan intelektualnya melahirkan karya-karya emasnya ikut mewarnai khasanah sastra Indonesia. Sebuah apresiasi yang tinggi ketika dengan karya kreatifnya seorang Melly Guslow sehingga mampu memberi nuansa (lebih…)

Read Full Post »

Sebuah Aku: Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku, ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu-sedan itu, aku ini binatang jalang
Dari kumpulan terbuang
Biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari, berlari, hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli, aku mau hidup seribu tahun lagi

Aku, karya yang fenomenal, membuat aku yang bukan siapa-siapa, bukan apa-apa begitu tersapa, dan mengagumi sebuah puisi sebagai teriakan, jeritan dan ungkap kejujuran dari seorang penulis puitis sebagai Suara Hati.

aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang. Ungkapan ini, begitu terngiang yang dengan kesadaran seorang pejalan hati yang sunyi menyatakan bahwa kita memiliki sisi yang sangat polos sekaligus (lebih…)

Read Full Post »

Dunia blogger melahirkan fenomena kebebasan yang luar biasa.  Dinding ruang dan waktu, kultur, kesenjangan tak lagi mampu menahan sebuah kebebasan, aktualisasi diri bahkan ambisi yang sebelumnya tersipu dan lugu.
Ketika seseorang menuliskan sesuatu di blog, jelas itu adalah sebuah kesadaran bahwa dia mengajak kita melihat, membaca dan (lebih…)

Read Full Post »

Prasasti yang memudar

Sejarah mencatat sekian ratus tahun kita dijajah, sampai Idealisme tangguh dari beberapa anak bangsa menggeliat, menunjukkan karakter kuat, dan membakar ruang sempit berjelaga rakyat Indonesia, mengoyak tirani dan berkorban sehingga mampu melahirkan kemerdekaan yang kita nikmati sampai detik ini.

Kita sudah merdeka, namun betapa luka yang digoreskan kaum penjajah di negeri ini begitu menyayat dan membekas bahkan sampai sekarang. Nyiur kelapa, untaian katulistiwa, keanekaragaman dan keindahan budaya indonesia seakan romantisme para Pendiri Bangsa sekarang tak lebih dongeng pengantar tidur. Bahkan bukan lagi cerita memalukan ketika seorang anak sekolah tidak hafal dengan Pancasila dan tidak jarang hanya tahu Lagu Indonesia Raya sebagai lagu prasasti berdirinya Negara Tercinta ini. (itupun karena telinga terpaksa mendengar karena ada upacara setiap hari senin, atau kebetulan mendengar ketika kejuaraan tinju dunia dengan petinju Indonesia). Kita mulai kehilangan jejak idealisme pendiri bangsa kita.

Beberapa kejadian jelas menggambarkan fenomena itu. Malaysia mengklaim bahwa batik dan wayang adalah budaya mereka. Kita mencaci, memaki, menghujat dan bahkan seakan siap berperang dengan sikap malaysia itu. Dalam hati kecil saya : “Saya bersyukur ketika Malaysia membuat pernyataan itu”. Ketika Timor-timur, Aceh, Ambon bergolak, dalam hati kecil saya “Jangan ditutup-tutupi berita itu”.

Ketika ribuan anak kecil kita begitu menggandrungi serial “Ipin dan Upin” dan beberapa nasionalis berkata ini sebuah gerakan neo imperialisme, dalam hati saya berkata “Ipin dan Upin layak menjajah rasa dahaga ribuan anak-anak bangsa kita”.

Mengapa kita harus menunggu malaysia mengklaim budaya kita kalau kita memang menganggap budaya kita adiluhung dan harus dilestarikan, Mengapa kita harus menutup-nutupi bahwa kita kehilangan tali batin, kebersamaan historis dan keakraban dalam nuansa yang beraneka ragam. Mengapa demi sebuah keangkuhan nasionalisme kita tidak mengacungi jempol si Ipin dan Upin sehingga secara nyata mereka mampu mencuri hati ribuan anak-anak bangsa kita.

Kita bangsa yang terdiam menunggu dan terganggu ketika kita terancam kehilangan. Keanekaragaman budaya, kemajemukan karakter ribuan suku di negara kita, kekayaan SD yang sering dilukiskan sebagai untaian katulistiwa ternyata tidak cukup untuk untuk membuat kita bangkit. Mengapa Jepang yang hancur berkeping-keping, bahkan jarang sekali kita dengar tokoh besar lahir dari bangsa ini, bisa seperti sekarang. Mengapa kita tidak.

Sebuah bukti, kita bangsa yang miskin idealisme dan layak dijajah.

Betapa banyak catatan membuktikan, banyak programmer, hacker, dan tokoh2 IT Indonesia diakui oleh internasional. Tapi di mana Si Unyil, Si Huma, Gundala, Gatotkaca, Pandawa bersembunyi, ketika Si Ipin dan Upin menyapa riang dari seberang laut Malaysia. Mengapa seakan kita sudah tidak lagi percaya diri dengan kekuatan dan nilai-nilai adi luhung budaya Nusantara.

Kita adalah bangsa yang disibukkan oleh perilaku dan naluri miskin typikal yang terhormat dan terpercaya para pejabat. Lihat saja: Yang terhormat Anggota Dewan saling jotos, kasus lingkaran korupsi yang tak kunjung henti, celoteh politikus yang berbisik mesra menghasut, dlsbytbdss (dan lain sebagainya yang tak bisa disebutkan satu persatu)

Apakah berlebihan jika dikatakan kita adalah bangsa yang tidak memiliki karakter, yang sudah kehilangan jejak pendiri bangsa ini.

Yang pasti aku bukan seorang nasionalis, aku hanya seorang yang rindu Si Huma dan Si Unyil yang pernah menyapa masa kecilku, yang sedikit terhibur oleh gaung LASKAR PELANGI.

Read Full Post »

Older Posts »