Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Curhat’ Category

Hidup tanpa citra

Dimana bayangmu, Citra
Hamparan pixelmu merampas segenap hasrat
Memanja mata yang meradang merindu
Meski dalam hening dan bisumu

Citra yang familiar disebut gambar bisa disebut cerita tanpa kata. Dengan melihat sebuah gambar maka imaginasi kita tergerak, terbangun dan dengan aktif merangkai gambaran dan diskripsi yang secara otomatis menggerakkan (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Sebuah Aku: Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku, ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu-sedan itu, aku ini binatang jalang
Dari kumpulan terbuang
Biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari, berlari, hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli, aku mau hidup seribu tahun lagi

Aku, karya yang fenomenal, membuat aku yang bukan siapa-siapa, bukan apa-apa begitu tersapa, dan mengagumi sebuah puisi sebagai teriakan, jeritan dan ungkap kejujuran dari seorang penulis puitis sebagai Suara Hati.

aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang. Ungkapan ini, begitu terngiang yang dengan kesadaran seorang pejalan hati yang sunyi menyatakan bahwa kita memiliki sisi yang sangat polos sekaligus (lebih…)

Read Full Post »

Dunia blogger melahirkan fenomena kebebasan yang luar biasa.  Dinding ruang dan waktu, kultur, kesenjangan tak lagi mampu menahan sebuah kebebasan, aktualisasi diri bahkan ambisi yang sebelumnya tersipu dan lugu.
Ketika seseorang menuliskan sesuatu di blog, jelas itu adalah sebuah kesadaran bahwa dia mengajak kita melihat, membaca dan (lebih…)

Read Full Post »

Pagi menjelang siang hari ini. Duduk di teras rumah sambil menikmati lalu-lalangnya orang  dari barat ke timur atau sebalikna.  Ada pembicaraan ringan namun cukup dalam menggores ruang ingatan yang  akhirnya mengusik reluh sadarku.

  • Tina        : “duh.. puyeng aku sama soal mate tadi, huww.. lulus pa ga ya, padahal kunci jawaban dah aq pegang, ternyata ga cocok”
  • Tini         : “ha..ha… kalo aq sih 99,9% yakin lulus” (yakin bgt)
  • Tina        : “Kamu enak, Tono Juara sekolah kita soalnya sama dengan soalmu, pasti jawabanmu 99,9% juga sama”.
  • Tini         : “Mantep bu…, tambah lagi pengawas ruang td pengertian banget,  jadinya agresi mencari kunci berjalan mulus”.
  • Tina        : “Sebenarnya ruangku juga sama, pokoknya suasana tetap tertib, tenang, aman terkendali aksi contek-menyontek juga lancar, tapi mau nyontek sapa, lawong satu ruang sama blo’onnya kayak aq”.
  • Tini         : “Nyante aj bu, kita kan dah minta doa restu sama Mbah Karto, dikasih jampi2 lagi, Mbah Karto kan masih sodara ama Mbah Marijan. Pasti roso mantranya. (Huawkk…haack.. haw.. (tertawa semua)

Dialog yang mempresentasikan  fenomena masyarakat kita, siswa-siswa sekolah yang kelak menjadi ujung tombak penentu budaya dan wajah masyarakat kita.

Mereka begitu usaha mati-matian, mulai dari belajar yang ditunjang oleh usaha yang luar biasa, mulai dari nyontek, nunggu sms kunci jawaban, pergi ke dukun nego dengan memelas kepada pengawas ruang sehingga berkenan memberi kesempatan untuk contekan.

Sementara sekolah, terus dan terus memacu dan menjejali (meski ga memperhatikan siswa sudah over dosis sampai teler dan berbusa-busa) materi-materi yang akan diujikan.  Di rumahpun tak ada ruang untuk tidak memikirkan Ujian Nasional karena orang tua tentu akan sangat malu kalau anaknya tidak lulus.

Pihak pengambil kebijakan mungkin tidak menyangka kalau efek Ujian Nasional yang menginginkan peningkatan kualitas pendidikan dengan menargetkan nilai tertentu sungguh2 luar biasa.  Peningkatan kualitas mungkin belum tentu dicapai, namun yang pasti penanaman nilai-nilai dangkal dan lipstik oriented jelas tergambar.

Dengan Ujian Nasional penilaian bakat, minat dan prestasi non akademis diabaikan.  Asalkan lulus Mata Pelajaran yang di UN-kan, maka pendidikan dianggap berhasil.

Yang jelas terjadi : budaya contek yang sebenarnya tak beda dengan maling, budaya dukun yang seharusnya syirik, budaya nepotisme yang pasti merapuhkan budaya dan tatanan menjadi halal dilakukan.  Dan ini tanpa sengaja tertanam di benak siswa-siswa sekolah, yang notabene adalah generasi yang akan menentukan wajah budaya bangsa kita.  Betapa dengan mudahnya orang menilai Pandai dan Goblok dengan hanya melihat nilai matematika, Betapa dangkalnya sebuah ketuntasan belajar dari indikator Lulus atau Tidak Lulus Ujian Sekolah.

Betapa kita sudah memupuk diri menjadi bangsa yang Lipstick Oriented. Merah, Indah, Cantik, menggairahkan namun dalamnya… dipertanyakan… Sebuah gerakan nasional yang pelan namun pasti.

Read Full Post »

Suara tanpa suara

Read Full Post »

Aku mengaduk-aduk file dan folder yang tersimpan dalam memori kenanganku saat aku pertama hadir di muka bumi ini. Usaha yang sia-sia… tak juga dapat ditemukan.

Sebuah tangis bisa berarti kegembiraan atau kesedihan yang tak tertahankan. Namun yang pasti aku yakini adalah sebuah tangis keras seorang aku yang bayi dan bayi-bayi normal lainnya 100% adalah sebuah tangis kegembiraan. Rasa terpesona yang luar biasa pada pandang dan rasa pertama…, dan sebuah naluri bersyukur yang tulus seorang mahkluk yang pertama merasakan warna-warni hidup, dan atas sambutan riang gembira dari pengharapan dan doa orang-orang sekitar atas kehadirannya.

Seorang bayi adalah murni dan kosong, demikian Bang Iwan Fals menulis dalam lagunya. Seorang bayi yang hanya tahu satu hal yang pasti, bahwa hidup adalah sebuah anugrah, yang hanya layak disambut dengan kegembiraan dan tangisan syukur.

Itu seorang bayi (menurut aku).

Namun betapa bertolak belakang antara hidup bagi seorang bayi dengan mahkluk dewasa seperti kita. Setiap hembus nafas, setiap detak jantung, setiap langkah yang terayun, bahkan setiap pilihan hidup kita sendiri yang memutuskan selalu saja membuahkan keluhan-demi-keluhan, sambat yang begitu nelongso, marah, umpatan geram dengan apa yang terjadi. Dan akhirnya menaifkan Nikmat yang tak pernah bisa terukur oleh satuan volume apapun. Nikmat setiap hembus nafas, setiap detak jantung, segenap ayunan langkah dan segenap hidup kita (bahkan kentut dan BH -Buang Hajat, tidakkah sebuah nikmat?).

Lihat saja di halaman facebook. Dari 20 coment yang ada, 15 coment tak lebih ungkapan2 sambat dan keluhan2 yang begitu bangga mereka sampaikan ke segenap penjuru dunia FB. Mereka bangga orang lain tahu kita adalah orang yang paling sedih, paling bermasalah, paling tidak bahagia dan seakan-akan orang yang tak pernah diberi sebuah rasa Bahagia sepanjang durasi hidupnya

Betapa tak terukur nikmat yang kita terima, meski mungkin kita berpaling, betapa tak mampu terangkul segenap hidup telah banyak memberi, meski kita tak meminta.

Betapa kita selalu berpaling atas segala nikmat hidup dengan mengeluh, mengeluh, mengeluh dan nelongso…. sehingga melupakan tangis pertama bayi mulainya kehadiran kita di rentangan fana 😦

Sungguh-sungguh menyedihkan.

Untuk diriku sendiri…….

Read Full Post »

Memperjuangkan kebenaran atau aksi premanisme

Betapa santunnya gambar-gambar yang terpampang Calon Legislatif, pada Pemilu beberapa bulan yang lalu, seakan mengundang keihklasan spekulatif sehingga akhirnya saya memilih gambar figur yang tadi. Sebenarnya terbersit pikiran ragu untuk memilih.

Mungkin ini adalah buah keraguan ketika saya memilih, dan bahkan jutaan pemilih karena jelas figur2 ini tidak dikenal.

Namun, Alhamdulillah, ketika layar kaca menyiarkan ketika para anggota DPR yang terhormat saling beradu gontok, gebrak meja, naik meja, dorong-dorongan bak seorang pendekar yang baru turun gunung untuk menjajal kesaktian dan kekuatan okol, bukan akal.

Mengapa saya bersyukur,
Ini adalah sebuah kenyataan yang memang harus diketahui rakyat Indonesia, bahwa seorang yang terhormat anggota DPR kita sekarang ternyata masih harus belajar untuk menjadi santun. Bahwa premanisme bukan hanya milik remaja, kaum pinggiran ataupun kalangan tak berpendidikan, namun juga pribadi yang katanya berkualifikasi pantas, tak ubahnya seorang preman, yang sebenarnya tak pantas untuk duduk di kursi kehormatan anggota dewan.
Dengan kejadian ini, kita sebagai rakyat mungkin tak punya kekuatan untuk merubah keadaan, namun setidaknya lebih bijak untuk mempercayakan suara rakyat dan memilih anggota dewan dengn lebih selektif, tanpa terpengaruh budaya beli suara yang akhirnya menghasilkan figur rapuh etika, dan budaya preman yang sangat memprihatinkan untuk ditunjukkan dan dipertontonkan layaknya seri pendekar ataupun banyolan paling konyol dan menyedihkan..

Read Full Post »

Older Posts »