Feeds:
Pos
Komentar

Emansipasi berasal dari bahasa latin “emancipatio” yang artinya pembebasan dari tangan kekuasaan. Kekuasaan yang mencengkeram, dan sedemikain membatasi gerak dan kebebasan.  Adalah syah dan layak menjadi inspirasi ketika RA Kartini, yang dengan kondisi yang ada pada waktu itu, menempatkan wanita sebagai kaum wingking (dibelakang) dan menjadi terpasung oleh budaya, tempo doeloe, yang akhirnya melahirkan kesadaran untuk memperjuangkan derajat kaum wanita, tempo dulu.  Adalah sebuah kepantasan seorang NH Dini, karena kepekaan dan kualitas empati dan intelektualnya melahirkan karya-karya emasnya ikut mewarnai khasanah sastra Indonesia. Sebuah apresiasi yang tinggi ketika dengan karya kreatifnya seorang Melly Guslow sehingga mampu memberi nuansa Lanjut Baca »

Kalau sampai waktuku, ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu-sedan itu, aku ini binatang jalang
Dari kumpulan terbuang
Biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari, berlari, hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli, aku mau hidup seribu tahun lagi

Aku, karya yang fenomenal, membuat aku yang bukan siapa-siapa, bukan apa-apa begitu tersapa, dan mengagumi sebuah puisi sebagai teriakan, jeritan dan ungkap kejujuran dari seorang penulis puitis sebagai Suara Hati.

aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang. Ungkapan ini, begitu terngiang yang dengan kesadaran seorang pejalan hati yang sunyi menyatakan bahwa kita memiliki sisi yang sangat polos sekaligus Lanjut Baca »

Dunia blogger melahirkan fenomena kebebasan yang luar biasa.  Dinding ruang dan waktu, kultur, kesenjangan tak lagi mampu menahan sebuah kebebasan, aktualisasi diri bahkan ambisi yang sebelumnya tersipu dan lugu.
Ketika seseorang menuliskan sesuatu di blog, jelas itu adalah sebuah kesadaran bahwa dia mengajak kita melihat, membaca dan Lanjut Baca »

Prasasti yang memudar

Sejarah mencatat sekian ratus tahun kita dijajah, sampai Idealisme tangguh dari beberapa anak bangsa menggeliat, menunjukkan karakter kuat, dan membakar ruang sempit berjelaga rakyat Indonesia, mengoyak tirani dan berkorban sehingga mampu melahirkan kemerdekaan yang kita nikmati sampai detik ini.

Kita sudah merdeka, namun betapa luka yang digoreskan kaum penjajah di negeri ini begitu menyayat dan membekas bahkan sampai sekarang. Nyiur kelapa, untaian katulistiwa, keanekaragaman dan keindahan budaya indonesia seakan romantisme para Pendiri Bangsa sekarang tak lebih dongeng pengantar tidur. Bahkan bukan lagi cerita memalukan ketika seorang anak sekolah tidak hafal dengan Pancasila dan tidak jarang hanya tahu Lagu Indonesia Raya sebagai lagu prasasti berdirinya Negara Tercinta ini. (itupun karena telinga terpaksa mendengar karena ada upacara setiap hari senin, atau kebetulan mendengar ketika kejuaraan tinju dunia dengan petinju Indonesia). Kita mulai kehilangan jejak idealisme pendiri bangsa kita.

Beberapa kejadian jelas menggambarkan fenomena itu. Malaysia mengklaim bahwa batik dan wayang adalah budaya mereka. Kita mencaci, memaki, menghujat dan bahkan seakan siap berperang dengan sikap malaysia itu. Dalam hati kecil saya : “Saya bersyukur ketika Malaysia membuat pernyataan itu”. Ketika Timor-timur, Aceh, Ambon bergolak, dalam hati kecil saya “Jangan ditutup-tutupi berita itu”.

Ketika ribuan anak kecil kita begitu menggandrungi serial “Ipin dan Upin” dan beberapa nasionalis berkata ini sebuah gerakan neo imperialisme, dalam hati saya berkata “Ipin dan Upin layak menjajah rasa dahaga ribuan anak-anak bangsa kita”.

Mengapa kita harus menunggu malaysia mengklaim budaya kita kalau kita memang menganggap budaya kita adiluhung dan harus dilestarikan, Mengapa kita harus menutup-nutupi bahwa kita kehilangan tali batin, kebersamaan historis dan keakraban dalam nuansa yang beraneka ragam. Mengapa demi sebuah keangkuhan nasionalisme kita tidak mengacungi jempol si Ipin dan Upin sehingga secara nyata mereka mampu mencuri hati ribuan anak-anak bangsa kita.

Kita bangsa yang terdiam menunggu dan terganggu ketika kita terancam kehilangan. Keanekaragaman budaya, kemajemukan karakter ribuan suku di negara kita, kekayaan SD yang sering dilukiskan sebagai untaian katulistiwa ternyata tidak cukup untuk untuk membuat kita bangkit. Mengapa Jepang yang hancur berkeping-keping, bahkan jarang sekali kita dengar tokoh besar lahir dari bangsa ini, bisa seperti sekarang. Mengapa kita tidak.

Sebuah bukti, kita bangsa yang miskin idealisme dan layak dijajah.

Betapa banyak catatan membuktikan, banyak programmer, hacker, dan tokoh2 IT Indonesia diakui oleh internasional. Tapi di mana Si Unyil, Si Huma, Gundala, Gatotkaca, Pandawa bersembunyi, ketika Si Ipin dan Upin menyapa riang dari seberang laut Malaysia. Mengapa seakan kita sudah tidak lagi percaya diri dengan kekuatan dan nilai-nilai adi luhung budaya Nusantara.

Kita adalah bangsa yang disibukkan oleh perilaku dan naluri miskin typikal yang terhormat dan terpercaya para pejabat. Lihat saja: Yang terhormat Anggota Dewan saling jotos, kasus lingkaran korupsi yang tak kunjung henti, celoteh politikus yang berbisik mesra menghasut, dlsbytbdss (dan lain sebagainya yang tak bisa disebutkan satu persatu)

Apakah berlebihan jika dikatakan kita adalah bangsa yang tidak memiliki karakter, yang sudah kehilangan jejak pendiri bangsa ini.

Yang pasti aku bukan seorang nasionalis, aku hanya seorang yang rindu Si Huma dan Si Unyil yang pernah menyapa masa kecilku, yang sedikit terhibur oleh gaung LASKAR PELANGI.

(Terinspirasi oleh potret nyata keluarga yang mudah2an tidak bermaksud merendahkan namun sebaliknya sebuah apresiasi
dan penghargaan tertinggi saya)

Kita sering mendengar, sebuah perceraian adalah hal yang sangat sering (mudah2an tidak dianggap wajar) terjadi pada pasangan suami istri. Bahkan berita selebritis tentang perceraian sungguh sebuah fenomena tentang pudarnya perkawinan sebagai manifestasi bersatunya dua insan yang sakral dan suci. Mahligai yang awalnya dibangun dengan cinta yang seakan mampu meratakan seribu gunung, mengarungi hamparan ombak, menerjang badai, dan ribuan ungkapan pujangga yang menghambur-hamburkan kata demi menggambarkan kekuatan cinta ternyata dengan mudahnya berakhir dengan Perceraian.
Kebebasan adalah hak hidup manusia demi menunjukkan kehendak, kekuasaan dan eksistensinya. Termasuk kebebasan untuk menikah ataupun sebaliknya bercerai.
Kesimpulan sementara: Seorang makhluk yang masih hidup berhak dan mempunyai kebebasan sepenuhnya termasuk untuk bercerai.

Namun, lihatlah sebuah potret nyata keluarga kecil, yang mungkin dalam kacamata perkawinan tidak bahagia, tidak berhasil membina keluarga yang utuh, justru (menurut saya) menunjukkan makna KEBEBASAN YANG SEBENARNYA.

Selama hampir 25 tahun, pasangan keluarga ini memilih untuk mempertahankan keutuhan keluarga mereka meskipun dengan banyak pertimbangan (yang tak bisa saya ceritakan) bahwa tidak mungkin mereka meneruskan bahtera perkawinan mereka, sebut saja ketidak cocokan yang tidak mungkin untuk disatukan. Mereka memilih untuk tetap meneruskan bahtera perkawinan mereka meskipun dengan kesepakatan dan komitmen bukan lagi sebagai suami istri. Mencari nafkah sendiri-sendiri, tidak melakukan aktifitas suami istri, tinggal dalam satu rumah untuk mencapai sebuah tujuan. Dan itu berlangsung sampai salah satu pasangan tersebut meninggal dunia.

Mungkin pembaca bertanya-tanya, tujuan dan alasan apakah sehingga mereka bersikukuh menjalani sesuatu yang mungkin menurut kita sebuah kebodohan yang konyol.

Ternyata tujuan dari bahtera perkawinan mereka (yang bisa diibaratkan sebagai kapal yang rapuh tanpa layar berkembang, kapal yang tidak lagi memiliki bersamaan mendayung, kapal yang tinggal berkeping-keping oleh hempasan samudra) adalah Nasib Anak Mereka.

“Anak kami tidak berhak menanggung derita dari resiko kebebasan yang sudah saya ambil dan putuskan. Anak kami adalah buah cinta kami, yang kami perjuangkan sampai berlabuh pada ikrar perkawinan suci, Anak kami adalah Titipan Kepercayaan Tuhan, kepercayaan Tuhan yang tidak pantas untuk kami khianati. Kami tidak ingin anak kami tumbuh menanggung hempasan badai pernikahan kami, kami tidak ingin anak kami menjalani hidup melewati duri dan serpihan tajam cinta yang pernah kami agungkan, kami tak ingin anak kami yang sepanjang kehadirannya di alam ini karena kemurahan Sang Pencipta lewat doa yang kami panjatkan menjadi terlantar. Kami harus menjalani dan menanggung sendiri resiko dari kebebasan yang kami pilih.

Jika memang mahligai perkawinan kami harus hancur, tetapi kami tidak mungkin merampas kesempatan buah cinta kami untuk merasakan dan menjalani hidup dengan bahagia”

Sungguh….., Sebuah konsep Kebebasan yang pantas kita jadikan kaca benggala. Mereka sangat memahami, kebebasan adalah sebuah kehendak yang bertanggung jawab, dengan segenap kesadaran memilih dan mengambil sebuah keputusan dan siap menanggung resiko apapun atas pilihan kebebasan yang mereka ambil.

Filsafat hidup Jawa nrimo ing pandum, sesungguhnya sebuah filosofi yang dalam. Terkesan dari 3 hurup itu diterjemahkan bahwa orang harus menerima segala yang diterima. Tanpa perlawanan, tanpa usaha untuk berubah dan vakum. Tapi ternyata filosofi nrimo ing pandum tidak sesederhana itu.

Nrimo ing pandum (menerima hidup apa adanya) ternyata sebuah usaha manajemen internal pribadi Jawa yang dengan sadar melihat bahwa tidak ada suatu keadaan yang selalu sama dengan yang kita inginkan. Selalu ada hal-hal yang tidak kita sukai, yang tidak kita inginkan, kita benci bahkan kita laknat, tapi ternyata, adalah bagian hidup yang selalu bersentuhan dan bahkan membelit keseharian kita. Dan kedalaman filosofi Jawa yang sederhana ini terletak pada sebuah kesadaran “Bahwa apa yang ada, bahkan yang paling bertolak belakang dengan kondisi ideal yang kita inginkan adalah bagian dari kehendak Sang Maha Hidup, Allah SWT” Allah menghendaki dunia ini sebagai tempat bertemunya dua hal yang yang sering kita maknai menyenangkan dan tidak menyenangkan.

Filosofi Jawa sangat menyadari bahwa “Wong Urip Sakdremo nglampahi” (orang hidup hanya sekedar menjalani) dengan segala daya, upaya dan modal hidup yang sangat istimewa yaitu akal dan hati.
Dengan akal kita berhak dan wajib mengupayakan, merubah segala sesuatu yang menurut akal kita tidak menyenangkan, tidak kita harapkan, bahkan kita laknat dan kita kutuk. Walaupun sebenarnya kalau kita mau jujur: sesuatu yang tidak menyenangkan yang kita laknat, adalah buah dari akal kita yang sedemikian berbakatnya melihat sesuatu itu enak atau tidak enak.

Tapi tidakkah menjadi berlebihan, kalau dengan akal yang sedemikian terbatas, dengan akal yang kadang terlampau nakal, kita merasa harus selalu mampu menghadapi kesulitan dan harus bisa menghadapi semua masalah. Tidakkah terkadang hati yang pasrah justru mampu menghadapi segala kesulitan tanpa harus mengerahkan segenap syaraf dan aliran darah dengan arogan. Sedangkan yang Maha Memiliki Takdir saja selalu menghadirkan senang dan susah secara berdampingan. Sebagaimana warna hitam dan putih. Filosofi Jawa menurut saya begitu menyadari bahwa Kita baru menyadari sebuah anugrah ketika kita berhasil memaknai kesusahan dan keterbatasan sebagai bagian yang memang harus kita rasakan demi mendewasakan dan memperkaya khasanah batin kita.. hingga membuahkan Syukur yang manis dan tulus… Lanjut Baca »

Seteguk teh manis yang hangat begitu nikmat menuruni tenggorokan hingga akhirnya bermuara pada tempat yang biasa disebut perut. Menjalar ke seluruh tubuh hingga pagi yang lumayan dingin terasa hangat dan nikmat. Beberapa saat kenikmatan itu begitu terasa sebelum pandangan indra mata dan telinga ini tertuju pada TV.

Beberapa tahun yang lalu salah satu acara favorit ku adalah nonton berita di TV, kalau berita di koran rada males, harus buka2 lembar, membaca, dan tentunya membayar untuk langganan. Kalau TV jelas beda, tinggal duduk nyante dengan segelas kopi atau teh berita- berita terbaru sudah melintas dan tinggal merekam di piringan memori otak kita.

Tapi sekarang kok terasa

Lanjut Baca »